Kamis, 17 Februari 2011

Karena Bahagia Kita Yang Ciptain

Setiap orang pasti memiliki keinginan untuk hidup bahagia. Setiap orang pun punya pendapatnya masing-masing tentang bahagia. Punya parameternya masing-masing. Ada yang merasa akan bahagia jika sudah punya rumah dan harta banyak, ada yang merasa bahagia jika sudah membahagiakan orang-orang disekitarnya, dan banyak parameter lainnya.

Hari ini saya membaca sebuah tulisan, tentang orang yang bekerja, jungkir balik, ingin mencapai cita-cita tuk meraih bahagia. Sampai dia lupa bahwa kebahagiaan itu sebenarnya banyak tercecer dalam perjalanannya mencari kebahagiaan yang dia maksud. Artinya, dia sudah mengabaikan kebahagiaan itu sendiri. Tulisan itu mengajak untuk “memelankan langkah”. Agar kita masih sempat menengok kekanan dan kekiri. Melihat simpul-simpul kebahagiaan. Saya setuju dengan tulisan itu. Agar tidak terhanyut dalam kapitalisme kehidupan, yang terjebak men-value-kan kebahagiaan dalam bentuk benda-benda (materi).

Buat saya bahagia itu adalah menikmati setiap langkah hidup dengan penuh cinta terhadap keluarga, kasih sayang yang trus mengalir, penuh canda tawa bersama dengan orang-orang yang disayangi, dan harta benda hanya sebagai pelengkap untuk mewarnainya, kebahagiaan itu akan sangat bermakna ketika ada cinta kasih didalamnya,dan keluarga adalah segala-galanya, kelengkapan seluruh anggota keluarga memiliki peran yang sangat kuat dalam membangun kebahagiaan, materi perlu dicari tapi bukan segalanya.